Ikatan dalam rumus kimia
[]Ikatan kuat kimia
| Panjang ikat dalam pm dan energi ikat dalam kJ/mol. Panjang ikat dapat dikonversikan menjadi Å dengan pembagian dengan 100 (1 Å = 100 pm). Data diambil dari [1]. | ||
| Ikatan | Panjang (pm) | Energi (kJ/mol) |
|---|---|---|
| H — Hidrogen | ||
| H–H | 74 | 436 |
| H–C | 109 | 413 |
| H–N | 101 | 391 |
| H–O | 96 | 366 |
| H–F | 92 | 568 |
| H–Cl | 127 | 432 |
| H–Br | 141 | 366 |
| C — Karbon | ||
| C–H | 109 | 413 |
| C–C | 154 | 348 |
| C=C | 134 | 614 |
| C≡C | 120 | 839 |
| C–N | 147 | 308 |
| C–O | 143 | 360 |
| C–F | 135 | 488 |
| C–Cl | 177 | 330 |
| C–Br | 194 | 288 |
| C–I | 214 | 216 |
| C–S | 182 | 272 |
| N — Nitrogen | ||
| N–H | 101 | 391 |
| N–C | 147 | 308 |
| N–N | 145 | 170 |
| N≡N | 110 | 945 |
| O — Oksigen | ||
| O–H | 96 | 366 |
| O–C | 143 | 360 |
| O–O | 148 | 145 |
| O=O | 121 | 498 |
| F, Cl, Br, I — Halogen | ||
| F–H | 92 | 568 |
| F–F | 142 | 158 |
| F–C | 135 | 488 |
| Cl–H | 127 | 432 |
| Cl–C | 177 | 330 |
| Cl–Cl | 199 | 243 |
| Br–H | 141 | 366 |
| Br–C | 194 | 288 |
| Br–Br | 228 | 193 |
| I–H | 161 | 298 |
| I–C | 214 | 216 |
| I–I | 267 | 151 |
| S — Belerang | ||
| C–S | 182 | 272 |
[sunting]Ikatan kovalen
[sunting]Ikatan polar kovalen
[sunting]Ikatan ion
[sunting]Ikatan kovalen koordinat
[]Ikatan pisang
[sunting]Ikatan 3c-2e dan 3c-4e
[]Ikatan tiga elektron dan satu elektron
[]Ikatan aromatik
]Ikatan logam
]Ikatan antarmolekul
]Dipol permanen ke dipol permanen
Ikatan hidrogen
HUKUM HUKUM KIMIA
E. Hipotesis Avogadro
Mengapa perbandingan volume gas-gas dalam suatu reaksi merupakan bilangan sederhana? banyak ahli termasuk Dalton dan Gay Lussac gagal menjelaskan hokum perbandingan volume yang ditemukan oleh Gay Lussac. Ketidakmampuan Dalton karena ia menganggap partikel unsur selalu berupa atom tunggal (monoatomik). Pada tahun 1811, Amedeo Avogadro menjelaskan percobaan Gay Lussac. Menurut Avogadro, partikel unsure tidak selalu berupa atom tunggal (monoatomik), tetapi berupa 2 atom (diatomik) atau lebih (poliatomik). Avogadro menyebutkan partikel tersebut sebagai molekul.
Gay Lussac:
2 volume gas hidrogen + 1 volume gas oksigen -> 2 volume uap air
Avogadro:
2 molekul gas hidrogen + 1 molekul gas oksigen -> 2 molekul uap air
Dari sini Avogadro mengajukan hipotesisnya yang dikenal hipotesis Avogadro yang berbunyi:
“Pada suhu dan tekanan yang sama, semua gas dengan volume yang sama akan mengandung jumlah molekul yang sama pula.” Jadi, perbandingan volume gas-gas itu juga merupakan perbandingan jumlah molekul yang terlibat dalam reaksi. Dengan kata lain perbandingan volume
gas-gas yang bereaksi sama dengan koefisien reaksinya (Martin S. Silberberg, 2000). Marilah kita lihat bagaimana hipotesis Avogadro dapat menjelaskan hukum perbandingan volume dan sekaligus dapat menentukan rumus molekul berbagai unsur dan senyawa.
Gambar 3.6 Amedeo Avogadro (1776–1857) berasal dari Italia. Sumber: Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005.
Konsep Mol
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan satuan untuk menyebutkan bilangan yang besar untuk mempermudah perhitungan. Sebagai contoh satuan lusin digunakan untuk menyebutkan benda yang jumlahnya 12 buah.
1 lusin = 12 buah
2 lusin = 2 × 12 = 24 buah
Satuan jumlah zat dalam ilmu kimia disebut mol. Satu mol zat mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram C–12, yaitu 6,02 × 1023 partikel. Jumlah partikel ini disebut sebagai bilangan Avogadro. Partikel zat dapat berupa atom, molekul, atau ion (Martin S. Silberberg, 2000).
Contoh:
• 1 mol besi (Fe) mengandung 6,02 × 1023 atom besi (partikel unsur besi adalah atom).
• 1 mol air (H2O) mengandung 6,02 × 1023 molekul air (partikel senyawa air adalah molekul).
• 1 mol Na+ mengandung 6,02 × 1023 ion Na+ (partikel ion Na+ adalah ion).
• 5 mol CO2 mengandung 5 × 6,02 × 1023 = 3,01 × 1024 molekul CO2.
• 0,2 mol hidrogen mengandung 0,2 × 6,02 ×1023 = 1,204 × 1023 atom hidrogen.
Gambar 3.7 Garam natrium klorida (NaCl) sebanyak 1 mol. Sumber: Chemistry, “The Molecules Nature of Matter and Change”, Martin S. Silberberg, USA.
Gambar 3.8 Natrium bikromat (Na2CrO4) sebanyak 1 mol. Sumber: Chemistry, “The Molecules Nature of Matter and Change”, Martin S. Silberberg, USA
tata senyawa
1. Senyawa Ion
Sebutkan nama ion positif (kation) diikuti nama ion negatif (anion)
Contoh
NaCl à Na+ +Cl-
Na+ = Ion Natrium
Cl- = Ion Klorida
Nama = Natrium Klorida
2. Senyawa kovalen biner (tersusun dari dua unsur)
Sebutkan nama unsur yang didepan diberi awalan jumlah dalam bahasa sansekerta dan diikuti nama unsur yang kedua diberi akhiran ida dan awalan jumlah dalam bahasa sansakerta
(catatan : mono di depan tidak lazim disebut)
Contoh :
CO2 = mono carbon dioksida
CCl4 = carbon tetraclorida
N2O5 = dinitrogen pentaoksida
Beberapa senyawa mempunyai tata nama khusus terutama senyawa karbon.
Contoh:
NH3 = amonia
BH3 = Borin
H2O = Air
CH4 = metana C2H4 = etana
Menentukan Rumus Kimia dari Nama Senyawa
Tuliskan rumus masing-masing ion, lalu gabungkan.
Perhatikan bahwa muatan rumus kimia senyawa harus netral (nol)
Contoh :
Tembaga(II)Klorida
Tembaga(II) = Cu2+
Klorida = Cl-
Cu 2+ + 2Cl- à CuCl2
Jadi rumus senyawanya = CuCl2
0 komentar:
Posting Komentar